
Bank BRI Pekalongan menyerahkan bantuan peralatan kepada Puskesmas Kedungwuni dalam sebuah acara seremoni yang disaksikan oleh anggota Forum Serasi Madani. Penyerahan tersebut merupakan bagian dari dukungan BRI terhadap puskesmas ramah disabilitas di Pekalongan.
Di Kabupaten Pekalongan (Jawa Tengah), dukungan MADANI kepada OMS berfokus pada peningkatan inklusivitas pelayanan kesehatan masyarakat di Puskesmas bagi kelompok rentan, termasuk bagi penyandang disabilitas. Dengan dukungan MADANI, advokasi kolaboratif dan mobilisasi sipil selama dua tahun telah menghasilkan pencapaian nyata, peningkatan aksesibilitas dan inklusivitas di Puskesmas setempat.
Penyandang disabilitas sering mengalami hambatan yang signifikan untuk mengakses layanan kesehatan, termasuk sikap negatif, tenaga medis yang kurang terlatih, dan Puskesmas yang secara struktural tidak dapat diakses. Di Pekalongan, komunitas ini, yang mencakup hampir 6.500 penyandang disabilitas dan 735 anak berkebutuhan khusus, enggan pergi ke Puskesmas setempat. Meskipun pemerintah kabupaten memiliki peraturan daerah (No. 2/2020) tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas, pemerintah belum mengeluarkan perintah eksekutif yang diperlukan yang akan menguraikan bagaimana penyedia layanan kesehatan mengimplementasikan peraturan daerah tersebut di kantor pelayanan terdepan.
Dengan dukungan MADANI, organisasi masyarakat sipil (OMS) Muslimat NU Pekalongan – bagian dari cabang perempuan Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia – mengambil isu ini dengan melibatkan para pemangku kepentingan utama dan mendekati anggotanya untuk mengambil peran yang lebih menonjol dalam masalah ini. Intervensi Muslimat NU bekerja untuk memaksimalkan keterlibatan masyarakat dan mengadvokasi rekomendasi kebijakan khusus yang akan meningkatkan akses ke layanan publik bagi penyandang disabilitas. Pada bulan September 2020, mereka menjangkau OMS lokal, lembaga pendidikan, dan media, dan membentuk Simpul Belajar Multi- pemangku Kepentingan ForumSerasi Madani. Dengan 18 organisasi anggota, Forum Serasi Madani bertujuan untuk memperkuat advokasi tentang akses inklusif ke layanan kesehatan masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai ruang untuk belajar dan berbagi pengetahuan di antara anggota masyarakat sipil.

Seorang anggota Simpul Belajar menyusun hasil survei kepuasan pelanggan layanan kesehatan menjadi rekomendasi untuk meningkatkan layanan kesehatan setempat.
Hasil survei kepuasan pelanggan layanan kesehatan yang dilakukan oleh Forum Serasi Madani menunjukkan bahwa tidak adanya fasilitas yang memadai bagi penyandang disabilitas di penyedia layanan kesehatan garis depan telah menjadi penghalang utama untuk mengakses. Misalnya, Puskesmas tidak memiliki kamar mandi atau ruang tunggu yang ramah terhadap pasien penyandang disabilitas. Mereka juga tidak memiliki bangsal khusus untuk terapi fisik atau untuk anak-anak dengan disabilitas intelektual.
Sebagai bagian dari pendekatan tata kelola kolaboratif, Forum Serasi Madani melakukan pendekatan dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang setempat untuk mendukung pendirian dua puskesmas ramah disabilitas, yang berujung pada penandatanganan nota kesepahaman tripartit. Kehadiran sektor swasta sangat dihargai, karena menunjukkan semangat pendekatan tata kelola kolaboratif dan bagaimana sumber daya dapat dimanfaatkan dari mitra-mitra baru untuk menyelesaikan tantangan pembangunan lokal.
“Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan meningkat di masa mendatang, karena kerja sama seperti ini saling menguntungkan bagi kita semua,” kata Anis Abdul Hakim, Kepala BRI Pekalongan.
Pada tanggal 29 Desember 2021, Forum Serasi Madani mengadvokasi rancangan peraturan bupati tentang akses penyandang disabilitas ke layanan kesehatan dalam rapat dengar pendapat dengan perwakilan dari pemerintah daerah dan DPRD. Selama audiensi, poin-poin utama yang dibahas termasuk membuat Puskesmas lebih mudah diakses secara struktural, menerbitkan kartu identitas disabilitas, mengembangkan basis data disabilitas, dan mendukung pengasuh berbasis masyarakat.
Pemerintah daerah menanggapi positif inisiatif Learning Forum, termasuk pemantauan berkelanjutan tentang bagaimana kualitas layanan telah meningkat di dua Puskesmas ramah disabilitas. Melihat hasil di lokasi saat ini, pada Juli 2022, Dinkes dan Simpul Belajar sepakat untuk mereplikasi model ini ke dua lokasi baru dengan pendanaan pemerintah daerah, sebagai bagian dari rencana pemerintah daerah untuk memperluas Puskesmas ramah disabilitas. Pada saat yang sama, Forum Serasi Madani terus mendorong pemberlakuan perintah eksekutif.
“Peningkatan akses layanan kesehatan masyarakat, terutama bagi penyandang disabilitas, merupakan terobosan baru,” kata Setiawan Dwi Antoro, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. “Kami berharap untuk secara bertahap mereplikasi semua perbaikan ke semua Puskesmas di seluruh kabupaten.”
Pencapaian dalam meningkatkan inklusi sosial ini merupakan hasil dari upaya multi-pemangku kepentingan, yang didukung oleh MADANI, di mana mitra OMS lokal berpartisipasi secara keseluruhan – dalam dengar pendapat publik, konsultasi perencanaan, dan penyusunan rancangan perintah eksekutif yang diusulkan. Dengan semakin banyaknya OMS mitra MADANI yang mengambil peran kepemimpinan di kabupaten mereka, pemerintah daerah dan legislatif di kabupaten-kabupaten MADANI – termasuk di Pekalongan – menunjukkan kemauan yang lebih besar untuk tidak hanya mengakui rekomendasi masyarakat sipil, tetapi juga untuk menghargainya sehingga dapat diadopsi sebagai kebijakan.


